Crass!
“Hm, sakit juga ternyata.”
Seorang lelaki memandangi lengannya yang tergores cukup dalam. Namun, bukannya panik karena darah yang terus mengalir, si lelaki hanya mengangguk-angguk selayaknya seorang dokter yang tengah memeriksa tabel hasil penelitian. Lalu, pemilik surai cokelat itu memanggil asisten setia yang biasanya selalu mengekor ke mana pun dia pergi.
“Nartooo!” panggil lelaki itu untuk ketiga kalinya. Tidak biasanya, sang asisten yang memiliki nama asli Arkana Muhammad Sunarto lambat menjawab panggilan.
Tidak lama kemudian, satu sosok lelaki berparas elok memasuki ruangan, cemberut sambil membawa tumpukan map serta dokumen. “Sabar, apa?! Enggak inget kalo tadi lo ... ya ampun, Kai! Lo habis ngapain sampai luka begitu, hah?!”
Belum lagi sempat lelaki muda yang barusan dipanggil ‘Kai’ itu menjawab, Arkana sudah meletakkan tumpukan dokumen di sofa terdekat dan berlari secepat kilat untuk mengambil kotak P3K.
Kaivan adalah pengusaha muda yang sukses mengembangkan bisnis kulinernya hingga membuka cabang di beberapa kota besar. Lelaki itu sejak tadi diam sambil mendengarkan omelan asisten setianya.
Sepasang manik cokelat terang memperhatikan Arkana yang dengan telaten membersihkan dan membalut luka di tangan kirinya, sementara potongan kayu yang diduga menjadi penyebab luka tersebut masih tergeletak di atas meja.
“Lo itu orang penting, seenggaknya peduli sedikit aja sama keselamatan diri sendiri, bisa enggak?!” Arkana mendengkus saat selesai membereskan peralatan. Untungnya, luka Kaivan tidak dalam, meski tadi darahnya mengucur cukup banyak.
“Tenang aja, kalo udah mau mati gue bakal selalu ingat untuk ngasih hak waris ke elo.” Kaivan mengacungkan jempolnya dengan senyum jenaka.
“Bukan itu maksudnya!” seru Arkana. Dia memijat kening, kepalanya sering pusing kalau harus menghadapi tingkah sang bos yang hobi sekali terluka dan kadang kekanak-kanakan itu.
“Oh, iya, hampir lupa. Ada Haila di depan,” ujar Arkana, baru teringat akan seseorang yang menunggu Kaivan di lantai bawah.
Mendengar nama itu disebut, lelaki yang terkenal pemberani kini membeku di tempat. Jantungnya berdebar tak menentu, sementara ujung jari-jari mendadak terasa kaku. Dengan susah payah, pemilik nama lengkap Kaivan Asher Qays itu bangkit dan merapikan pakaian, lantas pergi ke lantai bawah, tempat sang gadis menunggu.
Menyaksikan atasan sekaligus sahabatnya salah tingkah, Arkana terkekeh. Lalu, dia segera mengangkat panggilan telepon yang sejak tadi terabaikan. “Jangan ganggu. Halo, Rei? Kenapa?”
***
Mentari belum lagi lengser dari takhtanya, sementara awan dengan enggan beranjak dari sisi sang bagaskara. Menatap langit yang berwarna biru pucat, seorang lelaki menghela napas.
Ditatapnya layar ponsel dengan lelah, sebelum kembali menekan tombol ‘panggil’ untuk yang kesembilan kalinya. Pandangan sang lelaki bersurai cokelat gelap kini jatuh pada seorang wanita yang tampak kebingungan di seberang jalan sana.
“Halo, Rei? Kenapa?” Panggilan itu akhirnya dijawab. Suara seseorang terdengar dari seberang sana.
Rekasha El Rein menarik napas dalam-dalam sebelum bicara pada salah satu sosok penting yang sangat sulit dihubungi itu—Arkana.
“Jadi, Ar. Boleh gue mukul wajah lo sekali aja?” tanya lelaki yang biasa dipanggil 'Rein' itu dengan nada datar.
Meski tanpa melihatnya secara langsung, Rein bisa membayangkan dengan jelas wajah jengkel Arkana yang mungkin ingin membanting ponselnya sendiri saat ini. Mengurus makhluk merepotkan bernama Kaivan pasti membuat lelaki itu stres.
“Rei, bisa enggak, satu kaliii aja lo berhenti bikin gue emosi? Gue juga pengen banget mukul lo masalahnya!” Jauh di seberang sana, suara Arkana terdengar berat.
Rein mengangguk kecil dengan ekspresi yang berubah serius. “Gue mau minta tolong. Lo tahu anak SMA yang kena kasus pembunuhan waktu itu, kan? Gue mau minta informasi soal ma–”
“Maaf, sinyal Anda buruk. Silakan coba beberapa abad lagi!” Orang yang baru saja memotong ucapan Rein bukanlah Arkana, tetapi seorang remaja yang masih menenteng tas sekolah.
Rein melotot galak, sementara sang remaja yang dengan santai merebut ponselnya itu segera memutuskan sambungan telepon tanpa tahu bagaimana perjuangan Rein untuk menghubungi Arkana. Sungguh tidak punya adab. Padahal menelepon Arkana membutuhkan kesabaran ekstra.
Lalu, tanpa meminta maaf bahkan mengatakan sesuatu yang lain, sang remaja berlalu dan naik ke lantai atas, tempat dua buah kasur berukuran sedang tergeletak di lantai, bersama dengan beberapa rak buku, stok camilan, juga sebuah televisi dan kipas angin.
Tak lama, si remaja kembali turun, kali ini sudah berganti pakaian sambil mengetikkan sesuatu di ponsel dengan terburu-buru. Tanpa pamit, dia bergegas keluar dari ruko dua lantai yang juga berfungsi sebagai tempat tinggal.
“Mau ke mana lo, Aska?!” seru Rein.
“Yang jelas bukan bunuh d!ri atau tawuran, tenang aja! Gue masih pengen hidup damai dan nikah sama gebetan! Daaah! Bye-bye!” Dari jauh, remaja bernama Askara itu melambai. Dia segera hilang di telan arus pejalan kaki saat menuju kembali ke arah sekolahnya yang berada tidak jauh dari rumah.
Menghela napas pasrah, Rein pun beranjak menghampiri wanita yang sejak tadi tampak kebingungan mencari sesuatu. Setidaknya, dia ingin berbuat baik untuk hari ini.
***
“Iya, Kak. Aku tunggu. Tenang aja, enggak masalah, kok. Hati-hati, ya ....”
Aska terpaku sejenak. Mengagumi cahaya sore yang begitu indah kala menyinari sosok ayu di hadapannya. Gadis berseragam SMA itu tampak bingung saat menyadari kehadiran dari salah satu sosok paling dikagumi seantero sekolahnya.
Askara Zayyan Qays, salah satu dari tiga pangeran sekolah. Untuk apa orang seperti itu memandangnya cukup lama, sang gadis bertanya-tanya. Namun, sebelum sempat menyuarakan rasa herannya, pemuda itu segera bicara sambil tersenyum canggung.
“Hei. Tumben kamu belum pulang? Nunggu jemputan?” tanya Aska ramah.
“Iya, nunggu teman,” jawab gadis bernama Almara.
Aska mengangguk-angguk kecil, canggung. Meskipun berada di kelas yang sama, mereka hampir tidak pernah mengobrol. Namun, Aska ingin memanfaatkan kesempatan langka ini untuk mendekati sosok ayu yang akrab dipanggil Mara itu, gadis manis yang sangat menarik perhatiannya.
“Oh, maaf. Itu temanku datang. Aku duluan, Aska.” Belum lagi Aska mencari topik obrolan baru, Mara telah beranjak, menghampiri seorang wanita muda yang melambai dari atas sepeda motornya di seberang jalan.
Sayang sekali takdir tidak ingin melihatnya berhasil hari ini. Dia pasti akan berusaha lebih keras besok. Berpikir begitu, Aska melanjutkan perjalanan menuju sebuah kafe yang letaknya tak terlalu jauh dari sekolah, seraya melirik wanita muda yang tengah mengobrol akrab dengan Mara. Wajah ayu itu rasanya tidak terlalu asing. Aska mulai mengingat-ingat kapan dia pernah melihat wanita muda berhijab abu-abu tersebut.
“Kak Haila! Kok, lama, sih?”sapa Almara pada si pemakai hijab kelabu.
“Assalamualaikum!” sela wanita muda tersebut.
“Oh, iya! Waalaikumussalam, hehehe ....” Mara menggaruk tengkuk, tersenyum canggung pada sosok yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri.
“Maaf, ya. Tadi aku mampir ke tempatnya si dia dulu,” ujar Haila sambil melajukan sepeda motornya, setelah Almara duduk dengan nyaman di jok belakang.
Dia sudah berjanji akan menjemput Mara hari ini, tetapi ibunya meminta Haila untuk pergi menemui lelaki yang dijodohkan dengannya, calon tunangannya. Wanita muda itu menunggu selama setengah jam dengan sia-sia di restoran milik si lelaki dan akhirnya terlambat memenuhi janji dengan adik seimannya ini.
“Iya, enggak papa. Lagian tadi Kakak juga udah telepon, kan. Santai aja, santai~!” Mara mengibaskan tangannya. Gadis pendiam itu kini sangat berbeda, saat dia hanya bersama dengan orang-orang terdekatnya.
***
“Suhaila?”
Sampai di lantai bawah, Kaivan Asher Qays, si pemilik restoran, mengedarkan pandangan, tetapi tak juga menemukan sosok berparas ayu yang barusan dia panggil 'Suhaila'.
Suhaila Nurussyafa, 25 tahun. Satu-satunya perempuan yang berhasil meruntuhkan pertahanan hati Kaivan. Mereka bertemu dalam perjodohan dan berencana menikah beberapa bulan lagi. Namun, hubungan keduanya masih agak canggung dan kini ... lelaki muda itu merasa telah diberikan harapan palsu.
“Bu Suhaila sudah pergi, Pak Bos. Mungkin sepuluh atau lima belas menit yang lalu,” jawab seorang pegawainya.
Kaivan mendadak kehilangan energi. Terduduk di salah satu kursi kosong, dia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang, demi menghilangkan rasa gundah di dalam dada yang memang telah menumpuk sejak kemarin siang.
“Halo, Ka? Kita ketemu malam ini. Bisa, kan? Gue lagi pengen berantem sama lo.” Lantas, sang bos pun menutup telepon tanpa mendengarkan jawaban—lebih tepatnya makian—dari sang lawan bicara di seberang telepon sana.
[]
