Suatu malam di satu rumah sederhana milik pasangan lanjut usia. "Saya terima nikah dan kawinnya Citra binti Ibnu dengan mas kawin uang seratus lima puluh lima ribu rupiah dan seperangkat alat shalat dibayar tunai!" ucap lantang Rangga-seorang anak orang terkaya di sebuah kota besar.
"Sah," sahut para saksi.
Rangga-pria berusia dua puluh tujuh tahun menikahi seorang gadis berusia delapan belas tahun bernama Citra.
Citra seorang gadis dari keturunan sederhana bahkan rumah kayu itu sangat tidak cocok bagi dirinya yang berparas ayu. Kedua orangtuanya mengurus Citra sejak usia lima tahun, diambilnya dari jalanan. Namun, bagi Citra merekalah satu-satunya orangtua.
Kini gadis yang sah berstatus istri Rangga sedang duduk ditepian ranjang bersama ibunya dengan kasur busa sudah muntah di sana-sini. "Bu, Citra takut," rengeknya setelah kata sah satu jam lalu.
"Jangan takut, nak. Kamu harus bersyukur menikah dengan anak orang kaya, hidup kamu akan sangat bahagia penuh dengan harta dan kasih sayang dari Rangga."
"Tapi bu ... Citra belum siap nikah, Citra udah bilang sama ibu ...." Mata indah dan berbinarnya sudah berembun.
"Nak, mau sampai kapan kamu hidup bersama bapak dan ibu yang sudah tua ini? Bahkan usia bapak sudah menginjak kepala tujuh sebentar lagi ibu juga akan menyusul. Sudah sepantasnya kamu bersuami sebelum kami meninggal." Suara parau khas seorang nenek sangat terdengar serak.
"Bu, jangan ngomong gitu ...." Kedua tangan Citra melingkar di tubuh gembil ibu asuhnya. "Citra nggak siap ninggalin ibu sama bapak ...." Sekarang tetesan kesedihan tidak mampu dibendung.
Wanita tua ini melepaskan pelukan putri asuhnya. Ditatapnya menggunakan mata sedikit kabur. "Nak, jaga dirimu baik-baik, berbaktilah pada suamimu, jangan kecewa kan dia yang sudah memilih memperistrimu dari sekian banyak wanita yang dia kecewakan."
"Tapi ... Citra nggak ada cinta buat Kak Rangga."
"Cinta bisa menyusul, nak. Sudah, jangan lama-lama di sini. Pasti suamimu lelah menunggu."
"Tapi Citra takut, bu. Citra ... Citra takut Kak Rangga sentuh Citra!" Kerisauan di hati ditumpahkannya sejak tadi, berharap ibunya akan mengerti.
"Sudah sewajarnya suami menginginkanmu dan sebagai seorang istri kamu wajib memberikan pelayanan terbaik." Nasihat Sumi untuk putri asuh yang sengaja dilepaskan.
"Tapi pasti Citra nggak bisa." Mata memelas dan wajah panik masih kental menimpa kecantikan Citra.
"Lambat laun, kamu akan terbiasa nak." Kalimat terakhir dari Ibu Sumi.
Pernikahan Rangga dan Citra dilaksanakan pada malam hari dan tidak ada kemewahan sama sekali karena Citra tidak menginginkan pernikahan ini jadi, dia membuat kesepakatan bersama Rangga dua hari yang lalu kala pria itu melamar.
"Nggak perlu acara mewah, cukup akad aja." Siang itu Citra baru saja pulang mengaji jadi, tubuhnya dibalut jilbab.
"Kenapa, kamu malu nikah sama aku?" Ekspresi Rangga tidak terbaca. Marah? Kesal atau biasa saja? Citra tidak tahu.
"Bukan ... bukan gitu ...." Di kampung ini semua anak gadis tidak diizinkan memilih, mereka harus selalu dipilih. Bahkan andai ada laki-laki mengajak berpacaran, harus selalu meminta izin pada orangtua si gadis. Sejak usia enam belas tahun sudah banyak pemuda datang ke rumah, hanya sekedar mampir, mengajak pacaran, melamar. Namun, semua pulang dengan tangan kosong dan alhasil Citra harus meminta maaf pada semua pemuda itu karena keputusan mutlak ada pada orang tuanya.
Citra adalah kembang desa, pantas saja dia diperebutkan. Sontak Ibu Sumi dan Bapak Ibnu memilih jodoh yang tepat bagi anak asuhnya hingga akhirnya pilihan jatuh kepada Rangga-seorang pria yang mampu membawa Citra pada kehidupan lebih baik dan mungkin bisa membantunya mencari jati diri.
Sejak usia lima tahun Citra dibawa mengarungi kehidupan pas-pasan, tanpa adanya makanan mewah atau baju bagus maka, jika tangan Ibnu dan Sumi tidak mampu memberi kehidupan layak maka, Rangga diharapkan mengabulkan apa yang tidak bisa mereka lakukan.
"Maaf nak Rangga, Citra ini memang masih sangat muda jadi, jalan pikirannya belum panjang seperti nak Rangga," ucap Ibnu.
"Ah, tidak apa pak. Mungkin saya juga masih kekanak-kanakan." Kekeh Rangga merendah.
"Jadi, kapan pernikahan dimulai?" tanya Bima-ayahnya Rangga.
"Saya tidak tahu, silahkan anda saja yang memutuskan," tawar Ibnu. Seorang kakek tua berjenggot putih, bahkan semua rambutnya adalah uban.
Dihirupnya napas panjang oleh Bima. "Baiklah jika begitu. Mari laksanakan pernikahan dua hari lagi."
Tidak ada kata setuju dari Citra yang penting setuju orangtua.
***
Di atas ranjang berukuran besar Rangga dan Citra sudah tidur terlentang. Rangga menyiapkan sebuah villa untuk mereka berbulan madu.
Waktu sudah menunjukan pukul satu malam, sudah dua jam mereka dalam posisi yang sama. Mata keduanya menatap langit-langit berhiaskan lampu indah.
Rangga sering melirik pada Citra yang seolah tidak pernah meliriknya.
Selama dua jam ini pikiran Rangga sudah didominasi oleh bayangan malam pertama. Namun, tampaknya istri kecilnya tidak siap, tapi apa salahnya mencoba.
"Sayang," panggil seorang pria matang membuat mata sayu Citra membelalak sekejap, kini mata itu dibuat terpejam rapat.
Rangga tertawa pelan melihat tingkah istri kecilnya. Dihembusnya napas perlahan. "Iya udah kalo kamu nggak mau. Aku akan nunggu sampai kamu mau," ucap pelannya. Mata Rangga terpejam walau sebenarnya bayangan malam pertama masih selalu mendominasi.
Sementara, kelopak mata berbulu lentik mulai terbuka kembali, bola mata bulatnya bergerak ke sudut bermaksud melirik Rangga. Pria di sampingnya sudah terpejam dengan pakaian tidur lengkap.
Citra harap pakaian Rangga dan pakaian dirinya tidak pernah meninggalkan tubuh. Sederet doa dipanjatkan agar malam pertama, kedua dan yang lainnya jangan terjadi.
Tidak pernah terbayang sebelumnya jika Citra harus menikah tanpa cinta bahkan dengan seorang pria tidak dia ketahui sebelumnya. Rindu mulai menjalar tatkala wajah kedua orangtuanya menari dalam pikiran. Biasanya pukul satu malam, Citra sedang terlelap manja di kamar sebelah kamar orangtuanya.
Rumah itu hanya rumah kayu yang mulai reyot dan sudah beberapa kali didongkerak karena keseimbangannya goyah, tapi Citra bahagia tinggal di sana dengan segala keterbatasan materi. Citra juga tidak pernah menuntut apapun pada orangtuanya, bukan karena dia hanya anak asuh, tapi gadis ini memang menerima semua yang sudah dimiliki.
Setelah lulus sekolah menengah atas, Citra belum mendapatkan pekerjaan di kota seperti kebanyakan temannya karena tidak tega meninggalkan kedua lansia yang sudah rela membesarkannya tanpa pamrih.
Banyak dari temannya sengaja menginformasikan lowongan pekerjaan, salah satunya di gedung tinggi Danendra enterprises yang memimpin seratus gedung yang tersebar di berbagai kota besar. Namun, Citra menolak, tapi justru sekarang dia masuk ke dalam hidup pemilik Danendra enterprises yaitu Danendra Rangga.
Argh! teriak Citra dalam hati kala tubuhnya masih terlentang di posisi yang sama.
Citra, kamu beruntung atau buntung sih?
Tidak henti Citra bertanya pada diri sendiri tentang takdir ini.
Bersambung ....
