PopNovel

Reading Books on PopNovel APP

Gadis Kota Dan Pemuda Desa

Gadis Kota Dan Pemuda Desa

Author:Yaya comel

Updating

Introduction
Arman Pemuda desa yang berusaha meraih impian ingin mandiri walau tanpa dukungan dan penuh pertentangan sang ayah,namun apakah dia kan berhasil mendapatkan restu dan sukses didalam usahanya. Nayla gadis manis yang sering diselingkuhi dan dikhianati tapi masih mencintai sang kekasih, apakah hatinya akan berubah setelah bertemu dengan seorang pemuda desa yang polos dan membuat nya salah tingkah, silakan dibaca semoga suka
Show All▼
Chapter

Arman Prayoga adalah pemuda desa yang lahir dari seorang ayah bernama Joko Santoso dan seorang ibu bernama Astuti, Arman memiliki seorang kakak lelaki yang bernama Anjas Saputra dan dua adik perempuan bernama Trias dan Mega.

Keseharian Arman hanya membantu sang ayah yang notaben nya seorang juraga batu bata dan sang kakak memilih jadi seorang pegawai negeri didesa nya, sedang kedua adiknya membuka usaha jahit disamping rumah. Rumah ayah Armann tidak begitu besar hanya ada beberapa kamar untuk ayah ibu, Arman, Anjas sang kakak dan dua kamar lagi untuk kedua adik perempuan Arman.

Hanya halaman rumah nya saja yang luas karena untuk membuat dan menjemur batu bata setelah di bakar. Anjas kakak Arman dulu juga sering membantu membuat batu bata tetapi dia berkata ingin melanjutkan mimpi-mimpi nya jadi pns dan saat ada pendaftaran calon pns sang kakak begitu bersemangat.

Anjas berfikir jika menjadi seorang pns itu enak, gaji lumayan besar tidak perlu capek -capek ya walau jadi pns kerja lelah tapi tidak begitu lelah seperti saat membantu sang ayah membuat batu bata. Walau ada perdebatan kecil waktu Anjas mengutarakan keinginan nya tapi sang ayah akhirnya menyetujui setelah ada pengumuman kalau Anjas diterima jadi pns.

Arman sendiri sebenarnya juga ingin membuka usaha sendiri tapi dia belum berfikir akan membuka usaha apa.

"Mas Arman, jasa jahitan ku mulai sepi nih" adu Mega adik bungsu si Arman.

"Iyakah, mungkin baju mereka masih bagus-bagus dik" ucao Arman mencoba menghibur sang adik.

"Enggak kok mas, itu mbak lastri membuka jasa jahit juga yang kata tetangga lebih murah "adu Trias adik Arman yang lain.

"Lalu mas bisa bantu apa? " tanya Arman lembut.

"Apa ya mbak? " tanya Mega ke Trias kakak perempuan nya lalu mereka berfikir sedang Arman melanjutkan mencetak batu bata yang akan dibakar.

"Kalian ngapain gangguin mas mu yang lagi bantuin bapak hmm, sana bikin baju biar bisa dijual" perintah sang ayah yang kesal melihat kelakuan kedua anak gadis nya. Sang ayah tau kedua anak gadis nya ini lebih dekat ke Arman dari pada ke Anjas padahal Arman lebih galak dan keras kepala daripada sang kakak.

Dari segi wajah sebenarnya Arman lebih tampan tapi kulitnya sawo matang, sedang Anjas juga tampan dengan kulit agak kuning seperti sang ibu. Arman hanya terkekeh menanggapi kekesalan sang ayah dan tersenyum seakan mendapatkan ide, ya mungkin benar kata sang ayah adik-adik nya harus membuat baju dan dia akan membantu memasarkan nya.

Siang hari saat istirahat Arman menghampiri kedua adik perempuan nya.

"Mas punya ide gimana biar jahitan kalian laku" kata Arman diselingi senyum nya.

"Apa mas? " tanya kedua adik perempuan nya bersamaan lalu mereka tergelak begitu menyadari.

"Ya seperti kata bapak,kalian jahit baju dengan beberapa model lalu mas akan bantu tawarkan ke orang-orang,tapi setelah mas selesai.membantu bapak tapi, gimana mau nggak? " tawar Arman pada kedua adik perempuan nya, dan mereka terlihat berfikir.

"Ah lama, mas makan dulu kalian pikir model baju apa yang cocok dengan yang akan mas tawarkan " kata Arman lalu dia masuk untuk makan siang lalu nanti membantu sang ayah kembali.

Dilihat nya sang ayah sedang duduk di meja makan menikmati makan siang beliau, dan sang ibu dengan telaten meladeni sang suami alias ayah Arman, lalu dia tersenyum. Diusianya yang sudah ke duapuluh lima ini Arman belum memiliki kekasih tapi dia belum ingin.

Arman ingin membuka usaha sendiri baru akan menata hidupnya, lagia sang kakak juga belum menikah, bukannya tidak laku banyak ibu-ibu tetangga yang mencoba mencomblang kan anak gadis mereka dengan Arman dan jawaban Arman selalu sama, menunggu sang kakak menikah terlebih dahulu.

Lagian menikah itu bukan hal gampang menurut Arman,sekarang yang dia pikirkan adalah membantu kedua adik perempuan nya.

"Ngalamun aja le" tegur sang ibu saat melihat sang anak yang tidak segera menyantap makan siangnya.

"Iya, lagi mikir opo tho, mikir anak gadis orang" canda sang ayah yang langsung membuat Arman melotot sedang sang ibu tertawa melihat ekspresi sang anak.

"Ini lho pak, bu Arman pengen bantuin Trias sama Mega nawar-nawarin baju hasil jahit an nya" jawab Arman setelah berhasil menetral kan pikiran nya.

Ya, Arman tau sang ayah pasti tidak akan setuju dengan ide nya karena pasti sang ayah masih membutuhkan tenaga nya dan hanya tinggal dia saja yang bisa membantu sang ayah membuat batu bata.

"Ya kalau ibu terserah kamu le, memang kamu mau tawarin kemana, memang nggak lelah setelah membantu bapak mu kamu keliling " cecar ibu yang menunjukkan raut wajah bingung, sedang sang ayah hanya diam tak menjawab tapi Arman melihat ada raut wajah kecewa pada wajah beliau.

Dalam hati Arman mengucap kata maaf untuk sang ayah karena telah membuat beliau kecewa, tapi akan Arman buktikan seperti kakak nya yang ingin mengejar impian nya Arman pun begitu. Dan akhirnya mereka makan dalam diam dan dengan pemikiran masing-masing.

"Assalamualaikum pak, bu, Man" terdengar salam Anjas dari luar.

"Wa alaikum salam mas" jawab ibu dan Arman, sedang sang ayah langsung berdiri, dan berniat pergi tanpa menjawab salam sang putra sulung.

"Pak, bapak masih marah sama Anjas,, Anjas hanya bisa bilang maaf sudah membuat bapak kecewa, tapi sekali lagi Anjas tidak berniat membuat bapak kecewa" ucap Anjas saat melihat sang ayah akan berlalu, Anjas tau ayahnya masih marah karena dia memutuskan memilih menjadi pns daripada membantu membuat batu bata ayahnya.

Ayahnya hanya diam dan berlalu, Anjas membuang halus nafasnya, lalu mendekat kemeja makan dan memghempaskan bokongnya disana.

"Sudahlah mas, nanti lama-lama bapak juga akan luluh, sabar dan kita berdoa saja semoga bapak setuju dengan keputusan mas Anjas" ucap Arman mencoba menghibur sang kakak.

"Tapi sudah hampir lima bulan Man, bapak ndiemin mas Anjas, mas Anjas jadi merasa bersalah, tapi mas juga tidak ingin mengubur keinginan dan impian mas, kamu tahu kan" terang Anjas panjang lebar.

"Iya mas bener kata Arman, kamu sabar dulu, kamu kan tahu bapak kalian itu betah kalau diam, dan kamu mas tetap semangat buktikan ke bapak kamu bisa meraih impian mu " hibur ibu pada sang anak sulungnya. Lalu mengelus kepala putra sulung nya. Dan Anjas hanya mengangguk,itu lah ibu yang selalu mendukung nya walau sang ayah menentang keputusan sang anak.

"Makan dulu mas, biar ada tenaga buat godain mbak Mila" hibur Arman pada sang kakak. Mila adalah teman satu kantor Anjas dan Arman tau kalau Mila menaruh hati pada sang kakak tapi sang kakak terlihat cuek, entah seperti apa tipe wanita yang kakaknya sukai Arman juga tidak tau.

Ucapan Arman malah mendapat jitakan dari sang kakak dan membuat sang ibu tertawa,ibu tau ada banyak anak gadis yang tergila-gila pada kedua putranya tapi entah kenapa para putra nya enggan mendekati mereka. Anjas yang berumur hampir tiga puluh itu juga belum menandakan ada ketertarikan pada lawan jenisnya.

Selesai makan siang Anjas pun berpamitan kepada sang ibu untuk kembali kekantor nya, saat akan menemui dan ber pamitan pada sang ayah, sang ayah sengaja menghindar,Anjas pun tersenyum miris.

"Man,mas balik kekantor dulu ya" pamit Anjas kepada Arman lalu dia pergi.

Setelah kepergian sang kakak Arman berfikir berapa lama nanti sang ayah akan marah padanya, tapi jika dia tidak mencoba menggapai impiannya seperti sang kakak mana tau dia akan berhasil. Dan Arman bertekat akan membantu sang adik dan siapa tau ini jalan agar dia bisa membuka usaha yang dia mau.

Sore harinya seperti biasa Arman istirahat baru mandi dan menunaikan shalat maghrib, dalam doa nya dia menyebutkan nama sang ayah agar merestui keinginan nya, Arman dan ketiga saudara saudarinya diajarkan oleh sang ayah selepas shalat maghrib membaca Al'Quran agar hati mereka tenang.