PopNovel

Baca Buku di PopNovel

PESONA JANDA

PESONA JANDA

Penulis:Cek Tirich

Berlangsung

Pengantar
Syamsul Abadi Husah, biasa dipanggil Syamsul oleh ibunya, tapi dia memperkenalkan diri di khalayak ramai dengan nama Syam saja atau disebut dengan Syem. Dibilang polos dia tidak polos, dibilang dewasa dia tidak dewasa. Artinya, Syamsul seperti remaja laki-laki pada umumnya. Seperti biasa, Syamsul setiap hari memanjakan dragon miliknya, yaitu 5 kali 24 jam. Kalian tau apa itu dragon? Dragon itu adalah pusaka miliknya, dia begitu memanjakannya sepanjang hari. Hidup Syamsul berubah saat ia ketahuan ibunya saat ia memanjakan dragon, tapi dari situlah Syamsul bertemu dengan Maria. Maria adalah wanita dewasa, tidak terlalu dewasa karena ia baru berumur 28 tahun. Maria Tukinem, seorang janda tanpa anak dan keturunan Jepang Indonesia, lebih tepatnya nenek Maria yang orang Jepang, sementara orangtuanya tinggal di Jepang dan membuat ia tinggal sendiri di Indonesia. Maria dipertemukan dengan Syamsul saat mereka membeli air tebu. Bagaimana kisah mereka? Kisah dari remaja pria dan seorang janda.
Buka▼
Bab

Suara dentuman cukup kencang dan kuat keluar dari kamar kecil, dari rumah kecil, tapi memiliki dragon yang cukup besar. Apa itu dragon? Itu adalah pusaka remaja laki-laki yang baru lulus dari sekolah menengah atas, dia bernama Syamsul Abadi Husah.

Lagu disko yang keluar dari sound sistem remaja itu menggelepar kemana-mana, memekakkan siapa saya yang mendengarnya. Sayangnya, rumah kecil itu berdempetan dengan rumah tetangga yang lainnya, membuat musik yang keluar dari sana terdengar oleh para tetangga.

Saat orang-orang sibuk dengan kebisingan yang keluar dari kamar Syamsul, tetapi anak itu sibuk dengan mengocok dragon miliknya. Tak peduli dengan apa yang orang ributkan di luar, Syamsul masih asik dengan aksinya dan menuju sampai puncak. Bersandar di tempat tidurnya dan kepalanya mengadah keatas, sementara tangannya masih gencar di sana memainkan miliknya dengan cepat dan tentu saja membuat enak terbang melayang.

"Oh my God, kenapa harus seenak ini?" gumam Syamsul.

Wati selaku Ibu Syamsul begitu naik darah dibuat kelakuan anak laki-lakinya itu. Ia langsung menutup pintu rumahnya agar musik yang keras berasal dari kamar Syamsul tidak terdengar kuat di luar rumah. Dengan penuh amarah ibunya itu berjalan ke arah kamar Syamsul yang berhadapan dengan kamarnya.

"Untung saja anakku satu, kalau banyak bisa mati berdiri aku!"

Ibunya itu langsung mengetuk kamar anaknya dengan kuat, namun Syamsul tidak mendengar suara gedoran itu karena terkalahkan dengan alunan lagu yang terdengar di telinganya.

"Astaga anak sial ini! Apa yang dia lakukan di dalam sana?!"

Bu Wati benar-benar naik darah dibuat anaknya itu, walaupun anak satu-satunya, tapi membuat ia benar-benar kewalahan menghadapi Syamsul.

"SYAMSUL!!"

Braakk!

Mata Bu Wati bagaikan mengeluarkan api melihat kelakuan anaknya, ia sampai memegang dadanya takut jantungan seketika dan meninggal. Sementara Syamsul langsung terperanjat kaget, ia langsung berdiri dan menaikkan celananya. Ia menelan ludahnya ketakutan dan dengan gemetaran sambil mematikan lagu yang diputarnya.

Dengan hati-hati dan perlahan, begitu juga dengan dragon miliknya yang masih tegak malu-malu di dalam sana. Syamsul berjalan dengan pelan mendekati ibunya yang terlihat masih shock sambil tetap memegang dada.

"Mak, itu anu itu anu …"

"Kau mau kawin, Sul?" tanya Bu Wati memotong perkataan Syamsul.

Syamsul hanya menganggukkan kepalanya saja, ia menjawab itu karena makin takut dimarahi Ibunya. Namun, anggukan itu makin membuat Ibunya marah, bukan malah memecahkan masalah.

"Anak kurang hajar! Kecing mu belum lurus dan kau mau kawin?!"

Syamsul menelan ludahnya mendengar itu, tapi ia tak terima setelah mendengar apa yang dikatakan ibunya tadi.

"Mak, kencingku sudah lurus loh," ucap Syamsul membela diri.

"Geram aku lihat anak ini! Ke … kenapa kau melakukan hal yang tadi? Apa kau kurang akal sampai kau melakukan itu, hah?!"

Kini Bu Wati sudah berkacak pinggang di depan Syamsul, sementara anaknya itu antara takut dan berani menghadapi ibunya. Ia takut saja tiba-tiba ibunya itu memukulnya dan mengusirnya dari rumah.

"Yang tadi itu biasa, Mak. Semua orang melakukannya," jawab Syamsul memasang wajah bak orang minta dikasihani.

"Biasa apanya?! Aku tidak melakukan itu!"

"Ya, Mak kan perempuan, mana mungkin Mak bisa melakukan seperti itu."

Mendengar itu Bu Wati langsung mengangguk-angguk, bukan menyetujui apa yang dikatakan anaknya, tapi ia makin geram dengan anaknya itu.

Plak!!

Satu tamparan mendarat di pipi Syamsul. Tidak, tepatnya hanya di dagu Syamsul. Bu Wati tak dapat menjangkau pipi anaknya karena tingginya tidak sampai 150 cm, tepatnya hanya 149 cm. Sementara Syamsul, tingginya 183 cm, ia begitu mirip ayahnya yang bernama Syamsuddin, tapi sudah meninggal dunia sejak ia masih menempuh sekolah dasar.

"Mak, janganlah pukul Syam, anakmu ini sudah besar loh," kata Syamsul sambil memegang dagunya yang terasa sakit.

"Syem apaan Syem? Namamu itu Syamsul, Mak dengan Bapak memberi namamu itu dengan nama Syamsul, bukan Syem!" hardik Bu Wati tak terima anaknya berubah nama.

"Mak, Syam malu loh dengan nama itu. Tidak ada nama orang seperti itu di dunia ini, bagaimana Syam mau sukses kalau nama Syam seperti itu."

"Hei, Syamsul Abadi Husah! Namamu adalah namamu, kau mau sukses atau tidak itu urusanmu dengan kerja keras. Mak ingin kau sukses, Nak. Tapi, kenapa kau melakukan hal bodoh itu? Kalau kau nikah nanti dan punya kau sudah loyo, kau tak bisa memberi Mak cucu, Nak."

Syamsul menelan ludah mendengar itu, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia tidak ingin loyo saat malam pertamanya, Syamsul tak dapat membayangkan jika dia menjadi pria tak berguna di malam itu.

"Tidak, tidak mungkin. Aku tidak mungkin loyo, aku melakukannya 5 kali 24 jam. Apa itu ada kemungkinannya aku akan loyo nanti? Tidak, aku tidak mungkin loyo. Dragon, tenanglah, kau akan kuat, tegak, tegang menantang nanti. Jadi, percaya dengan tuan mu ini," ucap Syamsul dalam hati.

Syamsul melihat ibunya dengan semangat, kemudian ia memegang kedua bahu ibunya. Syamsul mengangguk semangat, sementara ibunya itu sampai kaget melihat kelakuan Syamsul tiba-tiba.

"Mak, Syamsul janji akan memberi Mak cucu, Syamsul akan berjanji memberi Mak cucu yang sangat banyak, kalau perlu satu lori. Kita tidak akan kesepian lagi, Mak tenang saja, dragon Syamsul tidak akan loyo. Pokoknya, Bapak di surga pasti bangga punya anak seperti Syamsul."

Tegas dan penuh semangat, Syamsul begitu sangat optimis. Ia benar-benar meyakinkan ibunya tentang kekuatan dragon miliknya, sementara Bu Wati diam terpaku melihat anaknya.

"Kau sangat tampan, Nak. Sama seperti ayahmu dulu, tapi dia tidak sepertimu, dia tampan dan normal. Kenapa kau jadi begini? Kau berkhayal ingin punya anak banyak ya?"

"Syam tau kalau Syam tampan, Mak. Pokoknya, Mak jangan khawatir, soal cucu, Syam akan memberikan cucu yang banyak untuk Mak."

"Jadi, kalau kau punya banyak anak, kau mau kasih dia makan apa?"

Syamsul langsung melepaskan tangannya yang memegang bahu ibunya, kemudian ia berbalik badan, tak lama kemudian ia berbalik badan melihat ibunya kembali yang terlihat lucu di matanya karena bertumbuh pendek gempal dan hanya memakai daster.

"Mak, Syam akan memberikan mereka makan nasi, makan roti, minum susu dan tak lupa dengan vitamin. Seperti yang Mak beri untuk Syam."

Bu Wati mengangguk-angguk lagi, ia hanya tersenyum mendengar itu.

"Kau mau membelinya pakai daun?" tanya Bu Wati dengan pelan, namun penuh penekanan.

"Mak ini lucu sekali, kalau mau membeli ya harus pakai duit lah, masa pakai daun."

"Ya makanya kau itu kerja! Nilai sekolah jelek, tidak mau kuliah dan sekarang jadi pengangguran! Kalau kau tidak dapat kerja hari ini, maka kau harus angkat kaki dari rumah ini! Kau mengerti?!"

"Mak, Syam ini anakmu loh," ucap Syamsul memelas.

"Anakku namanya Syamsul, bukan Syem!"

"Mak, I love you."

"Cari kerja sana, kalau tidak kau angkat kaki dari rumah ini!"

Bersambung