PopNovel

Baca Buku di PopNovel

Kesayangan CEO

Kesayangan CEO

Tamat

Pengantar
Sebuah konspirasi, Mandy menggantikan kakaknya menikah dan kakak iparnya menjadi suaminya sendiri. Sejak saat itu dimulailah kehidupan pernikahan yang harmonis setiap malam. Dia adalah Raja Kegelapan yang ditakuti oleh orang-orang. Konon kabarnya dia memiliki sikap dingin tak berperasaan dan tegas, tapi dia memperlakukan Mandy dengan sangat manja. Suatu hari, ada wartawan bertanya, “Apa ada sesuatu yang Bu Mandy takuti?” Mandy memperlihatkan wajah yang seakan ingin menangis. Hanya ada dua hal yang dia takuti sekarang. Pertama, suaminya! Kedua, suaminya setelah lampu kamar mati!
Buka▼
Bab

  Malang, di kediaman keluarga Gunawan.

  Seisi rumah dipenuhi ornamen dan lampu-lampu. Sederet mobil mewah pun sudah tiba di pintu depan.

  Rebecca sedang berada di dalam kamar pengantin dengan sekujur tubuhnya yang gemetaran.

  Dengan bangganya dia melihat gaun pengantin yang tergerai di atas ranjang.

  Tak lama berselang, seorang pelayan yang biasa disebut dengan Pak Tirta berlarian masuk dan membisikkan sesuatu ke telinga Rebecca, “Nyonya, aku sudah nyari satu rumah, tapi aku nggak nemu Non Sharon!”

  Kedua kaki Rebecca langsung terasa lemas mendengarnya dan hampir saja dia terjatuh.

  Bibirnya gemetaran dan wajahnya terlihat sangat pucat.

  “Dia ke mana?”

  “Non Sharon...” dengan rasa berat hati Pak Tirta berkata, “Dia kabur!”

  Jedar!

  Kabar ini bagaikan sambaran petir di siang bolong.

  Para tamu sudah berada di luar, tapi mempelai wanita yang mana adalah tokoh utama hari ini malah melarikan diri!

  Rebecca memejamkan matanya untuk menenangkan diri, lalu dia berkata, “Gimana nih! Kita harus gimana? Gimana kita harus ngejelasin ini ke keluarga Winata? Bisa gawat ini!”

  Sambil memegangi lengan Rebecca, Pak Tirta berujar, “Nyonya nggak perlu panik, kita coba cari cara ….”

  Tiba-tiba dari luar datang suara yang mengejutkan mereka, “Kakak mana?”

  Mereka berdua sontak tercengang.

  Rebecca pelan-pelan mengangkat kepalanya untuk melihat seorang gadis yang berdiri di pintu masuk, dan di saat itu juga seakan sorot matanya disinari cahaya.

  Dia pun langsung menggenggam tangan Pak Tirta dan bilang, “Keluarga Winata cuma bilang mau menikahi anak dari keluarga Gunawan, tapi dia nggak bilang mau yang mana, ‘kan?”

  “Iya!” angguk Pak Tirta.

  Rebecca menatap gadis yang ada di hadapannya dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu menyematkan senyuman liciknya.

  Pak Tirta adalah orang kepercayaan Rebecca, jadi tentu saja dia tahu apa yang dipikirkan oleh Rebecca di detik itu juga.

  “Nyonya, apa nggak apa-apa kita berbuat kayak begitu?” tanya Pak Tirta.

  “Kita nikahin saja dia, dengan begitu kita juga nggak perlu pusing lagi,” ujar Rebecca.

  Seusai mengatakan itu, ekspresi wajah Rebecca langsung berubah. Dengan senyuman di wajah dia melambaikan tangannya pada Mandy dan berkata, “Mandy, kamu ke sini deh!”

  Mandy tampak kebingungan.

  Dia perlahan berjalan mendekat. Tubuh kecil yang mengenakan gaun berwarna putih, wajah yang mungil, dan kedua matanya yang bulat besar berwarna hitam membuatnya terlihat seperti rusa kecil yang sedang waspada.

  Pada akhirnya dia pun tiba di depan Rebecca.

  Rebecca menatapnya dan berkata, “Mandy, ngapain kamu naik ke sini?”

  Mandy merasa sedikit ketakutan.

  Dia tahu kalau dia tak berhak untuk naik ke lantai atas. Biasanya pun dia selalu menggunakan kamar pembantu yang ada di lantai satu.

  “Aku … aku kemari untuk nyari Kakak ….”

  Mandy menjawab dengan suara yang sangat pelan. Kedua tangannya menarik pakaiannya dengan gerak-gerik yang tidak nyaman.

  Dari sorot mata Rebecca terpancar secercah niat buruk.

  Masih dengan senyuman di wajah, Rebecca berbicara kepada Mandy, “Mandy, kakak kamu sudah pergi karena ada urusan, makanya dia nggak ada di sini.

  “Eh?”

  Mandy terkejut dan kedua matanya terbuka lebar-lebar.

  Rebecca kembali berujar, “Tapi kayak yang kamu lihat sendiri, di luar sudah banyak orang yang nunggu mempelai wanita. Kalau mempelai wanita masih nggak muncul juga, keluarga kita bakal jadi bahan omongan mereka. Kamu ngerti ,’kan?”

  Mandy sempat kebingungan mendengar ucapan Rebecca.

  Lalu dia pun menjawab, “Kalau begitu ya cepat cari Kakak.”

  “Kalau aku bisa ketemu, untuk apa aku ngomong begini sama kamu!”

  Seketika Rebecca lepas kendali dan berbicara seperti itu.

  Namun dengan segera dia menyadari kesalahannya dan segera menenangkan kembali Mandy dan berkata padanya, “Begini saja, gimana kalau kamu bantu aku, ok?”

  Mandy tersanjung mendengarnya.

  “Eh, aku ....”

  Rebecca segera mengangkat tangannya untuk menyela ucapan Mandy.

  “Lihat tuh!” Rebecca memegang bahu Mandy dan menunjuk ke arah gaun pengantin berwarna putih yang ada di atas ranjang dan berkata, “Kamu suka gaun itu?”

  “Suka!” angguk Mandy.

  Rebecca lalu tersenyum tipis dan memberikan perintah pada Pak Tirta yang sedang berada di sampingnya, “Cepat panggil orang kemari untuk ganti bajunya Mandy!”

  ***

  Sementara itu, malam harinya di Champs Waterfront, rumah kediaman keluarga Winata.

  Dibandingkan kediaman keluarga Gunawan yang ramai, tempat ini jauh lebih tenang.

  Ardy sedang duduk di sofa sambil mendengarkan laporan dari sekretarisnya, Linardi, tanpa menunjukkan ekspresi apa-apa.

  “... Non Sharon sudah kabur ke luar negeri bareng pacarnya. Pak, apa kita masih perlu ngikutin mereka?”

  “Kabur?”

  Fendy yang mendengarnya tampak terkejut.

  Dia pun menoleh ke arah Ardy dan bertanya padanya, “Kalau begitu mempelai wanita yang datang siang tadi itu siapa?”

  Di saat itu Linardi berbicara, “Yang tadi siang itu namanya Mandy, anak angkatnya Rebecca. Siapa ibu kandungnya sampai sekarang masih tidak jelas. Dari dia masih berusia tiga tahun dia sudah diadopsi sama keluarga Gunawan dari panti asuhan, katanya sih ….”

  Ardy perlahan-lahan melayangkan pandangannya ke Linardi. Ardy memiliki wajah yang sangat menawan, mata yang dingin seperti batu permata dan aura yang membuat orang lain gentar.

  Linardi menelan ludahnya, mempertimbangkan kata-kata yang akan dia lontarkan, dan kemudian melanjutkan bicaranya, “Dia orangnya agak beloon!”

  Mendengar itu Ardy langsung mengerutkan keningnya.

  Fendy pun juga tertawa terbahak-bahak, “Kak, selamat ya kamu menikah sama orang beloon!”

  Ardy menyapu sorot matanya ke arah Fendy.

  Seketika itu juga Fendy langsung menutup mulutnya rapat-rapat.

  “Apa kita sudah harus pergi?” tanya Ardy ke Linardi.

  “Eh?”

  Dengan tampang kebingungan Linardi menatap Ardy.

  “Sudah boleh pergi!”

  Ardy berteriak dengan suaranya yang berat sembari dia bangun dari sofanya.

  Dia naik ke lantai atas dengan langkahnya yang mantap, tidak pelan tapi juga tidak terburu-buru.

  “Kak, nikmati waktu kalian berdua ya!” ujar Fendy melambaikan tangannya.

  Ardy tidak menghiraukannya dan langsung naik ke lantai atas.

  Suasana di sepanjang lorong sangat sunyi. Ardy melangkahkan kakinya satu per satu menuju ke kamar pengantinnya. Tepat ketika dia membuka pintu kamar, tiba-tiba dia mendengar suara yang sangat aneh dari dalam.

  Ardy berhenti sejenak dan dengan saksama memerhatikan suara itu, lalu dia kembali membuka pintu.

  ‘Prang!’

  Seperti ada sesuatu yang terjatuh dan pecah.

  Ardy masih tidak menyadari apa yang terjadi, tapi dia seperti melihat sebuah bayang-bayang putih tiba-tiba melintas di pandangannya. Ardy melihat anak kecil yang mengenakan gaun pengantin itu sudah terduduk di samping ranjang.

  Kepalanya tertutup tudung berwarna putih, ditambah pencahayaan ruangan yang gelap membuat wajahnya tak terlihat dengan jelas.

  Tapi, Ardy sama sekali tidak tertarik dengan itu.

  Dia hanya memenuhi perintah kakeknya untuk menikahi putri keluarga Gunawan. Selain itu, dia tidak peduli.

  Ardy tidak peduli apakah istrinya anak kandung dari keluarga Gunawan, ataukah anak yang mereka adopsi. Yang penting asalkan dia berhasil memenuhi permintaan kakeknya, sisanya tak jadi masalah.

  Hanya saja ….

  Ardy kesal melihat piring kue yang pecah di atas mejanya.

  Dia menutup pintu dan selangkah demi selangkah menghampiri gadis itu.

  Suasana di dalam kamar begitu tenang sampai langkah kaki dari luar pun bisa terdengar dari dalam.

  Ardy tahu kakeknya memiliki rencananya sendiri. Tentu saja dia tidak akan membuat anggota keluarga Gunawan menderita dengan menikahkan mereka.

  Karena itulah apa pun yang terjadi, malam pertama mereka tidak mungkin terhindarkan.

  Ardy berdiri tegak di depan ranjang menatap istrinya yang sedang duduk di samping ranjang. Kedua tangan bersandar di lututnya membuat dia terlihat lucu.

  Cara duduk itu tidak terkesan seperti seorang putri dari keluarga berada, tapi lebih terlihat seperti anak yang masih duduk di bangku SD.

  Ardy meraih tangannya ke tudung yang menempel di kepalanya dan tanpa ragu merobeknya.