PopNovel

Baca Buku di PopNovel

Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Penulis:Miss Yulie 2

Tamat

Pengantar
Mentari si pengantin dadakan. Terpaksa menggantikan posisi Kakak kembarnya, Samantha yang hilang di hari pernikahan. Namun, menjadi pengantin dadakan tak cukup menyelesaikan masalah. Tidak ada cinta, tidak ada perlakuan istimewa. Hanya cemoohan dan hal menyakitkan yang Mentari dapat. Arga, laki-laki baik yang seharusnya adalah Kakak ipar kepada Mentari, tetapi justru menjadi suami. Seketika menjelma sebagai sosok dingin tak tersentuh. Dia tidak pernah ikhlas dengan kenyataan bahwa Samantha hilang dan digantikan oleh Mentari. Tak sehari pun waktu berlalu tanpa bayang mantan calon istrinya, tidak sekalipun memandang Mentari seperti sosok seharusnya. Tidak pernah ada cinta.
Buka▼
Bab

"Mantha, kamu pasti akan sangat cantik dalam balutan gaun putih ini. Coraknya indah, semua dirancang sangat luar biasa. Sempurna. Bikin aku makin nggak sabaran aja," ungkap Mentari. Tak berhenti ia memandang takjub pada pakaian panjang, berujung gelombang, mengembang indah di hadapannya. Pakaian itu dirancang menyerupai gaun-gaun khas putri kerajaan dalam negeri dongeng, dan coraknya dibuat mengikuti selera modern.

"Kamu pengin pakai gaun itu?" tanya Mantha menanggapi omongan adiknya.

Mentari sigap menggeleng. "Nggak. Aku cuma kagum."

"Kalau kamu pengin, nggak apa-apa. Ambil gaun itu buat kamu."

Mentari tersenyum. "Mungkin, aku akan memakai gaun bercorak dan berukuran sama persis dengan milikmu. Tapi, nanti. Ketika jodohku sudah tiba. Tentunya pula bukan gaun ini."

Mantha hanya menatap sekilas Mentari. "Kenapa nggak pakai baju pengantin itu saja. Aku nggak tertarik memakainya."

Mentari terdiam. Dia tak berniat lagi membalas omongan kakaknya. Mantha memang begitu, semakin diladeni, semakin melantur.

Untuk menghindari omongan sang kakak yang kian menyimpang dan nyaris tak masuk akal, Mentari memutuskan keluar dari kamar Mantha.

"Mantha, aku keluar. Nikmati baik-baik malam ini. Sebelum besok hari bahagiamu tiba," pesan Mentari kemudian menutup pintu kamar Mantha.

Itu hanyalah perbincangan singkat tadi malam. Dan pagi ini perbincangan itu tak lagi berlanjut. Karena pagi ini jauh lebih menggemparkan dibanding percakapan melintur itu.

"Mentari, Mantha kabur!" Beberapa jam yang lalu Mama histeris mengaungkan kalimat ini.

Di ruang rias, Mentari menangis terisak. Bagaimana tidak? Tadi pagi Mantha dinyatakan hilang. Ia kabur dari jendela kamarnya. Apa motif Mantha, tidak ada yang tahu pasti. Yang jelas, cara Mantha cukup menjelaskan kalau dia tidak suka dengan pernikahannya. Pernikahan yang memang terjadi demi hutang budi keluarga. Orang tua Mantha dan Mentari, tepatnya Papa mereka berhutang saham kepada keluarga calon suami yang andai Mantha tidak kabur, detik ini telah menjadi suami Mantha.

Kaburnya sang kakak, membawa balada untuk Mentari. Dia dipaksa menjadi pengantin pengganti. Menggantikan posisi Mantha sebagai mempelai wanita hari ini.

Mentari sedih. Bukan karena menolak dinikahkan dengan mantan calon suami Mantha. Dia sedih karena hanya menjadi pihak yang bertanggung jawab, pihak pelarian saat di mana secara tidak langsung Mantha menolak menikah dengan calonnya.

"Sudahlah, Nak. Jangan menangis lagi," bujuk Mama. Entah sudah berapa kali beliau mengusap pundak Mentari. Berulang kali membawa Mentari ke pelukannya. Menenangkan Mentari.

Andai ujungnya harus begini. Kenapa tidak dari dulu Mantha menolak daripada tega mengorbankan Mentari untuk menutupi semua aibnya? Hidup memang tidak pernah adil, seadil timbangan neraca yang kalau kedua mangkuknya diisi dengan benda bervolume sama.

"Kenapa Mantha kabur, Ma?" tanya Mentari di tengah isak sendunya.

"Entahlah, Sayang. Dia nggak ninggalin apa pun. Sepucuk surat pun nggak ada," jawab Mama.

Mentari menyelisik parasnya di dasar pantulan cermin. Dia cantik seperti Mantha. Namun, dia tidak selalu seberuntung kakaknya. Terus saja begini. Setiap kali Mantha melakukan kesalahan dengan sendirinya kesalahan itu dilempar pada dirinya. Lagi-lagi, dia juga yang menanggung semua ketidaksukaan Mantha.

"Sudah waktunya, Sayang. Sebentar lagi lonceng gereja memanggil pengantin akan segera berbunyi." Mama menadahkan telapak tangannya ke hadapan Mentari.

Mau tidak mau, Mentari harus membalas uluran tangan Mama. Mungkin sepatutnya demikian. Mentari hidup di bawah bayang kesalahan Mantha. Tetapi, daripada semua itu, Mentari hanya khawatir hal-hal ini; bagaimana jika laki-laki yang seharusnya suami Mantha tidak menyukai dirinya? Bagaimana dia harus melanjutkan pernikahan yang tidak pernah diingini ini? Bagaimana jika dia tak menemukan setitik jejak kebahagiaan untuk dinikmati? Dan keresahan diiring tanya bagaimana yang lain.

Semua begitu gempar. Bahkan tanpa terasa kaki Mentari sudah menjejak di lantai pelataran gereja. Tinggal beberapa langkah lagi, maka sampailah dia di hadapan laki-laki mantan calon kakak iparnya yang dalam hitungan menit ke depan pula akan berpindah status menjadi suaminya.

"Jangan tegang," bisik Papa tepat di telinga Mentari.

Mentari mengangguk kecil. Dia lebih daripada tegang. Dia lebih cocok disebut resah bercampur takut.

Seharusnya Mentari lebih bijak dalam mengartikan omongan Mantha tadi malam. Seharusnya Mentari mengerti kalau maksud Mantha adalah hal ini; dia tidak menyukai pernikahannya. Namun berpulang, kenapa di acara malam perjodohan Mantha tidak menolak? Seharusnya saat itu Mantha menolak.

Mentari menatapi langkahnya yang terus menjejak mendekati altar. Sembari pula dia meratapi nasibnya yang tidak pernah sampai di garis keberuntungan. Belum apa-apa dia sudah melihat betapa perihnya bayangan kehidupan di depan sana.

"Kuserahkan putriku padamu." Akhirnya kalimat Papa terlontar begitu saja. Menyentak Mentari dari lamunan panjangnya. "Jagalah dia lebih baik daripada aku menjaganya. Cintailah dia lebih besar daripada aku mencintainya. Tuntun dia lebih pantas daripada aku menuntutnya. Berdirilah terus di sisinya. Peluk dia lebih dekap daripada aku memeluknya. Jangan biarkan sebulir air mata lolos tercurah dari salah satu atau kedua belah pipinya. Sebab dia putri yang kusayang."

Berakhirlah ucapan cinta tulus Papa, maka lepas pula genggamannya dari dekapan tangan Mentari. Kini, tangan Mentari berpindah haluan pada telapak tangan hangat. Walau hangat, telapak tangan itu tidak bisa berbohong kalau dia tetaplah menyirat dingin.

Sedikit demi sedikit, Mentari menegakkan kepala. Di depannya begitu kentara paras rupawan, mata biru sebiru laut dan menyala terang seterang mata kucing, rahang tegas kokoh mengukuhkan bahwa pemiliknya adalah manusia tampan setampan Pangeran Philip dalam dongeng Barbie Aurora. Tidak lupa tatanan rambut yang rapi dan stelan jas sedemikian rupa turut menambah kharisma laki-laki itu. Dan lagi-lagi diikuti kata tetapi; tidak ada senyum, tidak ada gurat kebahagiaan. Sedikit pun tidak.

Mentari dan mempelai laki-laki terus berjalan mengitari terpal merah hingga langkah mereka benar-benar tiba di altar, di hadapan pendeta—seorang hamba Tuhan—yang tengah tersenyum dengan sukacita. Mungkin si pendeta berpikir bahwa sepasang pengantin di depannya adalah dua sosok yang sedang diselimuti rasa bahagia.

Tidak ada basa-basi. Rangkaian acara demi rangkaian acara berjalan. Kini sampailah pada pengucapan janji suci oleh kedua mempelai.

"Di hadapan Tuhan, hamba-Nya dan jemaat-Nya yang kudus. Saya Arga Benjamin Wijaya Kusuma. Memilih dan menerima engkau Mentari Anindya Husein sebagai satu-satunya istriku yang sah. Berjanji setia dalam setiap keadaan. Pada waktu senang maupun susah, sehat maupun sakit, berkelimpahan maupun kekurangan. Untuk saling menghargai dan mengasihi. Bersedia membimbing dan mendidik anak yang dititipkan Tuhan sesuai dengan kehendak-Nya sampai maut memisahkan kita, seturut dengan hukum Allah yang kudus." Kalimat itu tercetus dari alat ucap mempelai pria; Arga.

"Di hadapan Tuhan, hamba-Nya dan jemaat-Nya yang kudus. Saya Mentari Anindya Husein. Memilih dan menerima engkau Arga Benjamin Wijaya Kusuma sebagai satu-satunya suamiku yang sah. Berjanji setia dalam setiap keadaan. Pada waktu senang maupun susah, sehat maupun sakit, berkelimpahan maupun kekurangan. Untuk saling menghargai dan mengasihi. Bersedia membimbing dan mendidik anak yang dititipkan Tuhan sesuai dengan kehendak-Nya sampai maut memisahkan kita, seturut dengan hukum Allah yang kudus." Ini pula giliran Mentari. Air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata dengan mudahnya mengucur menganak sungai di kedua pipi Mentari. Tidak pernah menyangka akan berakhir seperti ini masa lajangnya.

Ketika itu terdengar sorak-sorai para tamu. Semua mereka menggema, menyuarakan, "Cium ...! Cium ...! Cium ...!"

Dari ekor matanya, Mentari menatap nanar semua tamu. Kemudian dia melirik ke arah Arga. Tidak ada ungkapan apa pun, Arga segera mendaratkan sebuah kecup di bibir Mentari. Sedang Mentari hanya bisa mengikuti permainan Arga. Sejenak dia tepekur. Mencari jejak nyata pada hal yang baru saja dia rasakan; benda kenyal lembut sedikit berair menempel di bibirnya.

"Jangan berpikir barusan itu serius. Kita hanya sedang bermain peran di hadapan para penonton." Satu kalimat mencelos dari alat ucap Arga tentu berhasil merobohkan pertahanan Mentari.

Mentari termenung.

"Arga benar. Kami hanya sedang bersandiwara. Aku berdiri di sini tidak lebih dari pengantin pengganti. Pahlawan kesiangan yang hadir semata untuk menyelamatkan nama baik orang tuaku," gumam hati Mentari.

Kembali terdengar sorak riuh para tamu. Menggurat kebahagiaan di wajah mereka masing-masing. Padahal, mereka tidak tahu kalau pemandangan di altar sana bukanlah penampakan yang sebenarnya. Semua hanya tonil, sekadar permainan di atas panggung. Mentari dan Arga berhasil menipu semua orang tidak terkecuali dinding gereja yang turut menjadi saksi.

***

Noted:

Mari berkunjung ke novel terbaru saya. Judulnya, Dendam Termanis.