Karin Maesa Almahira seorang guru disalah satu sekolah menengah atas yang berada di pusat kota Jakarta. Sekolah swasta bertaraf internasional dan menjadi favorit di ibu kota. Karin berasal dari keluarga yang berkecukupan. Papanya Damar Susanto seorang pengusaha terkenal dan Mamanya Risa Maheswari seorang dokter di rumah sakit milik keluarga kakek Karin. Karin merupakan anak tunggal dari Damar dan Risa yang sangat disayangi oleh orang tua dan kakek neneknya.
“Ra.. Lo pulang naik apa?” Tanya Karin yang masih merapikan meja kerjanya dari tugas para siswa
“Kayanya taksi deh Rin. Mobil gue masih dibengkel.” Jawab Raina yang masih touch up make up
“Bareng gue aja yuk. Kita makan bentar di cafe Cahaya. Kita udah seminggu nggak nongkrong lo.”
“Ehm.. Boleh deh. Kebetulan mama juga lagi ada kerjaan. Lo yang traktir kan ya Rin.” Raina tersenyum menunjukan giginya yang putih
“Iya. Beres Ran.. Udah yuk ah. Ntar kesorean.” Karin meraih tangan Raina kemudian mereka berjalan bergandengan tangan ketempat parkir mobil
Karin dan Raina bersahabat sejak mereka kecil dan tidak pernah terpisahkan. Mereka selalu bersama bahkan saat menempuh pendidikan di Universitas. Mereka hanya beda jurusan. Mereka susah seperti saudara kandung atau adik kakak.
***
“Duduk disana yuk Rin.” Ucap Raina saat mereka telah sampe di cafe Cahaya
“Sip.” Balas Karin mengekor langkah Raina
Tanpa sengaja kaki Karin tersandung menjadi sehingga tubuh Karin hilang keseimbangan kemudian menabrak pelayan cafe sebelum akhirnya jatuh dipangkuan seorang pria dengan tubuh dan otot tangan kekar yang melingkar dipinggang ramping Karin.
“Maaf.. Saya tidak sengaja.” Ucap Karin tanpa mengalihkan tatapan pada pria itu
Plak..
Satu tamparan panas mendarat diwajah putih dan bersih Karin yang dilayangkan oleh seorang wanita yang tengah duduk disamping pria itu.
“Kalau mau menggoda cowo orang jangan pakai cara murahan gitu donk. Pakai cara yang elit. Dasar wanita murahan!” Cerca wanita yang berada disamping pria itu
“Eh mba.. Kalau punya mata itu buat lihat. Jelas-jelas aku tadi kesandung kabel kok ya dibilang ngerayu cowo kamu. Kaya cowo kamu ganteng aja sih.” Omel Karin tak mau kalah
Raina mencoba menghentikan adu mulut Karin dan wanita itu saat melihat cowo yang tadi tanpa sengaja Karin jatuh dipangkuan nya, namun Karin tidak peduli dengan ucapan Raina dan meneruskan adu mulutnya.
“Kalau kalian mau terus berdebat, silahkan lanjutkan didepan.” Tukas cowo itu yang membuat Karin terkejut dengan suara yang sangat familiar diindera pendengarannya
Suara itu..
Karin masih sangat mengingat suara itu. Suara laki-laki yang pernah menaruh luka dihati Karin terdalam ketika mereka dibangku kuliah. Suara yang membentak Karin dihadapan mahasiswa yang tengah berkumpul di taman. Suara yang menuduhnya bermain dibelakang dan lebih percaya fitnah teman-temannya daripada percaya Karin pacarnya sendiri saat itu.
Karin memutar leher kesumber suara yang sangat Karin kenal. Karin membelalakan netranya saat melihat laki-laki yang dihadapannya sangat Karin kenali.
Mantan pacar!
Narendra Ragasa Hadiputra.
Mantan Karin satu-satunya selama Karin bernafas. Mantan yang telah menaruh luka. Mantan yang membuat Karin membuka hati dan menutup hati kembali hingga kini.
Karin wanita yang sangat cuek dengan lawan jenis bahkan tidak pernah berpacaran selain dengan Naren. Pacar pertama dan mantan pertama Karin.
Narendra Ragasa Hadiputra seorang pria berhidung mancung, rahang tegas, berbadan tinggi tegal 185 cm, kulit putih bersih merupakan mantan Nayra saat berada di bangku kuliah. Narendra anak seorang pengusaha Dermawan Hadiputra dan istrinya Dera Puspita. Narendra pun sama seperti Karin yang merupakan anak semata wayang orang tua mereka.
“Na-naren.” Ucap Karin terbatas dan gugup
“Karin.” Balas Naren lugas
“Ran. Ayo kita pergi dari sini. Kita cari tempat lain aja Ran.” Karin menarik tangan Rania meninggalkan cafe Cahaya, namun Karin membalikan tubuhnya saat berada didepan pintu memanggil pelayanan yang tadi ditabrak nya tanpa sengaja
“Mas.. Maaf saya tadi tidak sengaja. Ini ganti rugi yang tadi mas. Kalau masih ada sisanya buat mas simpan ya.” Karin mengulurkan beberapa lembar uang berwarna merah ke pelayanan tadi
“Makasih mba.” Balas pelayan itu
Karin hanya menganggukan kepala lalu berjalan menuju tempat parkir. Karin memutar kemudian meninggalkan cafe Cahaya kembali ke rumah. Karin sudah tidak selera untuk makan dan nongkrong seperti biasa.
Naren menatap kosong kedepan saat bayangan Karin menghilang dari pandangannya.
‘Karin.. Gue nggak salah lihat kan? Itu Karin. Gue harus minta maaf sama Karin. Gue rindu sama Karin. Salah gue terlalu banyak sama Karin.’ Batin Naren
Lamunan Naren buyar ketika wanita disampingnya memanggil Naren.
“Naren.. Kenapa kamu bengong. Kita makan lagi yuk.” Ucap wanita itu manja
“Kita pulang. Kalau kamu masih mau disini nggak apa-apa.”Naren meletakan beberapa lembar uang berwarna merah kemudian pergi keluar meninggalkan cafe
Wanita yang bersama Naren tadi pun pergi mengikuti Naren yang telah lebih dulu masuk mobil. Dengan ekspresi wajah datar Naren melakukan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang mulai sedikit macet sore hari saat jam pulang kerja para karyawan.
Naren sebenarnya enggan dan risi dengan wanita disebelahnya yang merupakan pilihan mamanya untuk dijodohkan. Naren menolaknya namun mamanya memaksa mereka untuk saling mengenal terlebih dahulu.
Tangan Naren terkepal kuat ketika wanita disebelahnya yang bernama Rita itu menampar Karin dengan keras sehingga mungkin meninggalkan jejak tamparan diwajah Karin yang putih dan bersih. Naren berusaha untuk menahan emosi mengingat saar itu mereka tengah berada ditempat ramai dan Naren nuga masih terkejut saat melihat Karin berada dihadapannya tadi.
Cantik..
Satu kata yang terlintas dibenak Naren saat pertemuan pertama mereka yang tanpa disengaja. Pertemuan yang mendebarkan membaki jantung Naren setelah hampir enam tahun berpisah. Nyatanya debaran jantung itu masih terasa walau mereka berpisah dalam waktu yang cukup lama.
Naren menyunggingkan senyum sangat tipis sehingga tidak bisa terlihat oleh Rita yang berada disampingnya. Senyum bahagia seirang Narendra Ragasa Hadiputra.
‘Aku akan mendapatkan hatimu kembali’ Narendra