PopNovel

Baca Buku di PopNovel

Menantu yang hebat

Menantu yang hebat

Berlangsung

Pengantar
Hitunglah menantu perempuan, tetapi juga lihat aku hari ini! Mimpi burukmu telah datang...
Buka▼
Bab

Di depan Villa nomor 9, Perumahan Agung.

Seorang wanita yang memakai riasan tebal, dia mengenakan empat cincin berlian di kedua tangannya, tangannya menenteng sebuah tas LV, menatap Firdaus Lahope, yang memakai pakaian biasa. Wanita itu mentapnya dengan tatapan menghina, "Kamu mau uang kan? Aku bisa memberikannya padamu."

Tubuh Firdaus gemetar, matanya bersemangat, "Terima kasih Bibi."

Bibinya, Murlani Hamdu mencibir, "Berlutut!"

Seluruh tubuh Firdaus menegang, matanya menyala karena amarah, tetapi demi uang pengobatan, dia akhirnya mengendalikan amarahnya

Deg deg!

Dia berlutut dengan tegak di hadapan Murlani.

Hatinya seperti diiris oleh pisau, tidak punya pilihan lain.

Ha ha...

Murlani menghadap ke langit dan tertawa.

"Dasar pengecut!"

"Pria rendahan!"

"Menikah demi uang, dan berlutut kepada orang lain pun demi uang!"

Hati Firdaus seperti ditusuk jarum.

Tiga bulan yang lalu, ayahnya tiba-tiba jatuh sakit dan mereka kehilangan tulang punggung keluarga mereka, keluarga mereka hidup bergantung dari berjualan jamu, dan seketika semuanya runtuh.

Meskipun Keluarga Lahope dulunya adalah keluarga yang berpengaruh di bidang pengobatan jamu di Kota Lastoro, tetapi kebangkrutan yang dengan tiba-tiba mereka alami belasan tahun yang lalu, membuat mereka sekeluarga jatuh.

Saat ini, mereka sama sekali tidak ada uang untuk biaya pengobatan.

Demi biaya pengobatan ayahnya, setelah lulus kuliah dia segera menikah dengan keluarga Yastoyo.

Menurut rumor yang beredar, seorang peramal mengatakan bahwa putri kedua keluarga mereka, Zairawati Yastoyo sejak lahir ditakdirkan, bahwa ia akan membawa kesialan bagi suaminya, maka, suami pertamanya harus mati.

Keluarga Yastoyo membayar dua milyar rupiah untuk menyewa seorang menantu dan bersedia untuk menjadi tumbal. Demi pengobatan ayahnya, Firdaus akhirnya melepas harga dirinya, dan menjadi menantu keluarga Yastoyo, ditukar dengan uang pengobatan sebesar dua milyar rupiah.

Setelah tiga bulan, uang dua milyar itu habis terpakai, ayahnya belum juga sembuh, Dokter mengatakan bahwa jika mereka tidak mampu membayar uang pengobatan, mereka hanya harus menunggu kematian ayahnya.

Tak punya pilihan lain, dia mencari keluarga pamannya, Taufik Lahope, menagih hutang sebesar dua milyar yang tiga tahun lalu ayahnya pinjamkan kepada pamannya.

Paman sedang tidak ada di rumah, Bibinya pun mempermalukannya di tempat.

Firdaus memohon, "Bibi, uang dua milyar itu telah dipinjamkan kepada kalian tiga tahun yang lalu, sekarang Ayah memerlukan uang untuk pengobatan, tolong Anda kembalikan uang itu!"

Murlani membelalakkan matanya, kukunya menusuk dahi Firdaus.

"Dasar tidak berguna! Sia-sia saja kamu kuliah, setelah lulus bukannya pergi mencari pekerjaan, malah menjadi menantu keluarga lain, mempermalukan Keluarga Lahope, dan masih berani bilang tidak punya uang untuk biaya pengobatan Ayahmu?"

"Keluargamu semuanya adalah orang tak tahu diri, beberapa tahun belakangan ini, sudah berapa banyak bantuan yang aku dan pamanmu berikan untuk keluargamu?"

"Pekerjaan paruh waktu ibumu saat ini, bukankah adalah kemurahan hati dari aku dan pamanmu?"

Tubuh Firdaus gemetar karena marah.

Jika dari awal punya uang, mana mungkin menjadi menantu keluarga Yastoyo?

Orang yang meminjamkan uang malah disebut orang tak tahu diri, dunia macam apa ini?

Teringat akan pekerjaan paruh waktu ibunya, hati Firdaus sangat sakit, Ibunya yang sudah berusia lima puluh tahun, di siang hari harus menjaga toko jamu, lalu di malam hari ke toko pamannya untuk memindahkan batu bata dan batangan baja, meninggalkan bekas luka di seluruh tubuh dan membuat ibunya kelelahan.

Kemarahan terus menerus menyerbunya, tetapi Firdaus tetap menahannya.

"Bibi, aku akan mengurus rumah dengan baik, tetapi uang dua milyar itu benar-benar harus dikembalikan sekarang. Jika bukan karena kami dulu meminjamkan uang dua milyar itu kepada Anda, mana mungkin ada puluhan milyar yang keluarga Anda miliki sekarang? Kalian sedang membangun sebuah garasi mobil sekarang, dan itu bahkan berkali-kali lipat lebih mewah dari rumah kami."

"Ayahku berharap kalian dapat membangkitkan keluarga Lahope, sehingga dia membantu kalian dengan sekuat tenaga, tidak apa jika kalian tidak berterima kasih, tetapi setidaknya harus mengembalikan uangnya kan?"

“Dari dua milyar itu, ada sebagian yang Ayah saya pinjam dari Retenir, kalian bahkan tidak pernah membayarkan bunganya sedikitpun. Kalau bukan karena tidak mampu membayar retenir, bagaimana mungkin Ayah berkali-kali dipukuli, dan bahkan sampai terbaring di rumah sakit."

Murlani langsung kesal, "B*jingan, apa maksudmu? Kamu masih meminta bunganya? Mau memeras kami, hah?"

Dia mengangkat tangannya dan menunjuk ke lokasi konstruksi di dekatnya, "Dengar ya, mobil yang akan dimasukkan ke garasi itu seharga dua milyar lebih. Lebih mahal dari harga dirimu, bahkan tidak mungkin bisa dibandingkan denganmu!"

"Mari lihat, seberapa tidak berhati nuraninya keluargamu, rakus sekali!"

Wajah Firdaus memucat, "Bibi, Anda..."

Murlani mendengus dengan dingin, "Kalian hanya memanfaatkan kebaikan hatiku untuk meminta uang. Tidak akan kuberi, pergi kau!""

Tepat pada saat itu secara bersamaan datang sebuah mobil Land Rover putih baru melaju ke halaman vila dengan diiringi suara deruan mesin, begitu menyilaukan dibawah sinar matahari.

Seorang pria berusia tiga puluhan yang berwajah seperti monyet turun dari mobil bersama dengan seorang wanita cantik, dan melihat ke arah Murlani, "Kak, mobil ini beserta seluruh prosedurnya seharga tiga milyar, performanya juga sangat bagus! "

Sudut mulut Murlani melengkung menjadi sebuah senyuman angkuh.

Firdaus sangat marah hingga urat-urat di dahinya hampir pecah.

Tinggal di vila seharga milyaran rupiah, naik mobil seharga dua milyar lebih, dan membangun garasi yang sangat mewah, dan masih bilang tidak punya uang?

"Bibi, Ayahku sedang mempertaruhkan hidupnya!"

"Hidup dan matinya, apa urusannya denganku?"

"Dia itu manusia! Makhluk yang hidup!"

"Terus mau bagaimana?"

"Anda sama saja dengan seorang pembunuh!"

"Apa? Benar-benar menyebalkan! Tunggu sebentar!"

Murlani membalas dengan marah.

Firdaus menahan kemarahannya, dan sekali lagi dipenuhi dengan harapan.

Murlani berbalik dan berjalan ke dalam vila, dan membawa pot perunggu keluar.

"Aku tidak punya uang tunai, ini adalah barang antik seharga empat milyar yang pamanmu beli, anggap saja untuk mengganti dua milyar itu, dan sisanya adalah bunganya, sudah cukup?"

Murlani melemparkan pot perunggu itu dengan keras kepada Firdaus.

Abu rokok yang ada di dalamnya tumpak ke tubuh Firdaus, bau rokok begitu menyengat, membuatnya terbatuk-batuk.

Dia benar-benar marah, dan pot perunggu itu jatuh, "Anda benar-benar keterlaluan."

"Siapa yang berteriak-teriak disana?" Talib Hamdu, pria berwajah seperti monyet yang sejak tadi terus mengagumi mobil mendekat dengan suara nyaring.

Hulala!

Beberapa pekerja yang keluar masuk untuk mengangkut material konstruksi juga ikut menghampiri mereka.

Murlani berkacak pinggang, "Kamu mau uang dua milyar dan aku memberimu empat milyar, kamu masih belum juga puas, apakah kamu mau memeras kami?"

"Pot perunggu jelek ini harganya dua milyar rupiah? Bukannya empat puluh juta?" Firdaus melawan.

Puh!

Talib sangat marah, "Hajar dia!"

Firdaus melihat lima orang pekerja berdbadan besar mendekat, situasinya tidak baik, lalu dia berbalik dan lari.

Tapi dia terkepung oleh mereka.

Pada saat ini, seorang wanita paruh baya yang memakai helm keamanan datang menerobos kerumunan, dia menangis dan berteriak, "Tolong lepaskan anak saya."

Duk!

Talib meregangkan kakinya dan menyandung wanita itu, membuatnya jatuh terjungkal.

Helmnya terjatuh, membuat rambutnya yang beruban dan kerutan wajahnya terlihat.

Ternyata itu adalah Melanny Said, Ibu Firdaus yang bergegas datang, "Ibu! Kenapa kamu ada sini?"

Dia tahu bahwa ibunya sedang bekerja di kontruksi milik paman tetapi dia tidak menyangka dia tengah membantu kontruksi garasi milik pamannya.

Melanny tidak memperdulikan tangan dan kakinya yang terluka, dia buru-buru bangun, dan melihat ke arah Murlani dan Talib, "Atas dasar persaudaraan kita, aku mohon jangan pukuli anakku."

“Siapa saudaramu?” Setelah Talib selesai berbicara, dia sekali lagi menendang Melanny.

"Br*ngsek! Aku akan menghajarmu."

Melihat ibunya dipukuli, Firdaus sangat marah, mengambil pot perunggu itu, dan hendak menyerang Talib.

Bang bang bang!

Sebelum dia bisa maju untuk menyerang, tinju besi pekerja-pekerja itu segera menghantam wajah Firdaus, hidungnya tiba-tiba mengeluarkan darah.

Asbak perunggu itu jatuh, seorang pekerja memungut pot perunggu itu dan memukulkannya di kepala Firdaus, dengan satu pukulan keras Firdaus diruntuhkan.

Darahnya tumpah dan mengalir masuk ke dalam pot perunggu, kedua kaki Firdaus membeku, dan dia pingsan.

Shush!

Sebuah cahaya hijau berkedip melewatinya.

Pot perunggu itu dengan cepat menyerap darah segar Firdaus, perlahan warna kehijauan itu berubah menjadi kemerahan, dan pada akhirnya berubah menjadi sebuah cahaya merah dan masuk ke dalam kepala Firdaus.